← Kembali ke Blog Section
Mengapa Banyak Pasangan Canggung Bicara Soal Keintiman?
10 Desember 2025📖 6 menit baca

Mengapa Banyak Pasangan Canggung Bicara Soal Keintiman?

Ditulis oleh Ardo Sebastian
Pernikahan & Keintiman

Ada satu pertanyaan yang sering muncul ketika saya berbagi konten edukasi untuk pasangan menikah:

"Pak eRTe, kok rasanya canggung banget ya kalau mau ngobrol sama pasangan soal... itu?"

Dan pertanyaan itu selalu datang dengan berbagai eufemisme. "Itu", "hal pribadi", "urusan kamar", atau berbagai istilah lain yang menghindari menyebut langsung: keintiman fisik.

Jika kamu juga merasa begitu, saya ingin kamu tahu: kamu tidak sendirian.

Kikuk Adalah Normal, Tapi Tidak Harus Permanen

Keintiman fisik adalah bagian yang natural dan penting dari pernikahan yang sehat. Ini bukan topik tabu. Ini bukan sesuatu yang harus dibisikkan dengan malu-malu.

Tapi kenyataannya, banyak pasangan, bahkan yang sudah menikah bertahun-tahun, masih merasa canggung membicarakannya dengan terbuka.

Mengapa?

Akar dari Kecanggungan

1. Budaya yang Menanamkan Rasa Malu

Sejak kecil, banyak dari kita dibesarkan dalam budaya yang menjadikan topik seksualitas sebagai sesuatu yang tabu. Pembicaraan tentang tubuh, keintiman, atau apapun yang berkaitan dengan itu dianggap tidak sopan atau memalukan.

Akibatnya, bahkan setelah menikah, kita masih membawa rasa malu itu. Kita merasa aneh atau tidak pantas untuk membicarakan kebutuhan, keinginan, atau bahkan masalah yang berkaitan dengan keintiman fisik.

2. Kurangnya Pendidikan Seksual yang Sehat

Banyak pasangan memasuki pernikahan tanpa pemahaman yang memadai tentang keintiman fisik. Tidak ada yang mengajarkan mereka cara berkomunikasi tentang hal ini dengan sehat.

Yang mereka tahu seringkali datang dari sumber-sumber yang tidak akurat atau bahkan menyesatkan. Tidak heran jika mereka merasa bingung dan canggung.

3. Takut Menyinggung Perasaan Pasangan

Banyak orang takut bahwa jika mereka memulai pembicaraan tentang keintiman, pasangan akan merasa dikritik atau tidak cukup baik.

"Kalau saya bilang saya butuh ini, apakah dia akan merasa saya tidak puas dengan dia?"

"Kalau saya minta coba hal baru, apakah dia akan pikir saya bosan dengan hubungan kita?"

Ketakutan-ketakutan ini membuat banyak pasangan memilih diam, meskipun ada hal-hal yang sebenarnya perlu dibicarakan.

4. Asumsi Bahwa Pasangan Seharusnya "Tahu"

Ada ekspektasi tidak realistis bahwa pasangan seharusnya secara otomatis tahu apa yang kita inginkan atau butuhkan tanpa perlu dibilang.

"Kalau dia benar-benar cinta, dia pasti tahu apa yang aku mau."

Tapi kenyataannya, tidak ada yang bisa membaca pikiran. Komunikasi adalah kunci.

Dampak dari Tidak Bicara

Ketika pasangan tidak bisa berkomunikasi dengan terbuka tentang keintiman, ada beberapa dampak negatif yang bisa terjadi:

Ekspektasi yang tidak terpenuhi.

Tanpa komunikasi, masing-masing pihak hanya bisa menebak-nebak apa yang diinginkan pasangan. Akibatnya, ekspektasi seringkali tidak terpenuhi, yang bisa menimbulkan frustrasi.

Jarak emosional.

Keintiman fisik yang baik seharusnya memperkuat koneksi emosional. Tapi jika ada masalah yang tidak dibicarakan, justru bisa menciptakan jarak.

Masalah yang tidak terselesaikan.

Jika ada masalah, entah itu tentang frekuensi, preferensi, atau masalah kesehatan, dan tidak dibicarakan, masalah itu akan terus ada dan bahkan bisa membesar.

Kehilangan keintiman.

Ironisnya, tidak bicara tentang keintiman justru bisa membuat keintiman itu sendiri berkurang atau bahkan hilang.

Bagaimana Memulai Percakapan

Jika kamu sudah lama merasa canggung dan ingin mulai membuka komunikasi dengan pasangan, berikut beberapa tips praktis:

1. Pilih Waktu dan Tempat yang Tepat

Jangan mulai pembicaraan sensitif ini ketika salah satu sedang stres, lelah, atau terburu-buru.

Cari waktu ketika kalian berdua rileks dan punya privasi. Bukan di tengah-tengah kesibukan atau ketika anak-anak ada di sekitar.

2. Mulai dengan Apresiasi

Sebelum membahas hal-hal yang ingin diperbaiki atau diubah, mulai dengan apresiasi hal-hal yang sudah baik.

"Aku sangat menghargai keintiman kita. Ada beberapa hal yang menurutku kita bisa coba untuk membuat hubungan kita lebih baik lagi."

Ini membuat pasangan tidak merasa diserang atau dikritik.

3. Gunakan "I Statement", Bukan "You Statement"

Alih-alih mengatakan "Kamu tidak pernah...", coba katakan "Aku merasa lebih terhubung ketika kita..."

Ini membuat percakapan lebih tentang perasaan kamu daripada menyalahkan pasangan.

4. Jadilah Spesifik Tapi Tetap Lembut

Alih-alih berbicara dengan samar-samar, cóbalah lebih spesifik tentang apa yang kamu maksud, tapi dengan cara yang lembut dan tidak menghakimi.

"Aku merasa lebih nyaman ketika kita..."

"Aku ingin mencoba... bagaimana menurutmu?"

5. Dengarkan dengan Hati Terbuka

Komunikasi bukan hanya tentang berbicara, tapi juga mendengarkan. Beri ruang bagi pasangan untuk berbagi perasaan, kebutuhan, atau kekhawatiran mereka.

Jangan langsung defensif atau merasa diserang. Tujuan percakapan ini adalah saling memahami, bukan memenangkan argumen.

6. Edukasi Bersama

Kadang, solusi terbaik adalah belajar bersama. Baca buku, artikel, atau bahkan ikuti seminar atau workshop tentang keintiman dalam pernikahan.

Ketika kalian belajar bersama, kalian juga membangun vocabulary yang sama untuk membicarakan topik ini.

Mengubah Mindset: Dari Tabu ke Normal

Salah satu hal paling penting adalah mengubah mindset kita tentang topik ini.

Keintiman fisik dalam pernikahan adalah:

Normal. Ini adalah bagian natural dari hubungan suami istri yang sehat.

Penting. Ini bukan sekadar "bonus". Ini adalah salah satu cara pasangan membangun dan memelihara koneksi.

Bisa dipelajari. Tidak ada yang lahir dengan kemampuan otomatis untuk menjadi pasangan yang baik dalam hal ini. Semua bisa dipelajari dan diperbaiki.

Layak untuk dibicarakan. Ini bukan topik tabu yang harus dihindari. Ini adalah aspek penting dari pernikahan yang perlu dikomunikasikan dengan sehat.

Ketika Butuh Bantuan Profesional

Ada kalanya, komunikasi antara pasangan saja tidak cukup. Jika ada masalah yang lebih serius, seperti trauma masa lalu, masalah kesehatan, atau perbedaan yang signifikan, tidak ada yang salah dengan mencari bantuan profesional.

Konseling pernikahan atau terapi seksual yang dilakukan oleh profesional yang kompeten bisa sangat membantu.

Mencari bantuan bukan tanda kelemahan. Justru itu adalah tanda bahwa kamu cukup peduli dengan pernikahanmu untuk berusaha memperbaikinya.

Kesehatan Keintiman adalah Investasi Pernikahan

Keintiman fisik yang sehat adalah salah satu pilar pernikahan yang kuat.

Ketika pasangan bisa berkomunikasi dengan terbuka tentang kebutuhan, keinginan, dan bahkan masalah mereka dalam aspek ini, mereka tidak hanya meningkatkan kepuasan fisik, mereka juga memperdalam koneksi emosional mereka.

Jadi jika kamu selama ini merasa canggung membicarakan hal ini dengan pasangan, mulailah mengubah mindset kamu.

Kecanggungan adalah normal di awal. Tapi dengan latihan dan komitmen untuk berkomunikasi dengan lebih terbuka, kecanggungan itu akan berkurang.

Dan yang tersisa adalah koneksi yang lebih dalam, pemahaman yang lebih baik, dan keintiman yang lebih memuaskan, secara fisik maupun emosional.

Langkah Pertama Dimulai Hari Ini

Kamu tidak perlu langsung membahas semuanya dalam satu percakapan.

Mulailah dengan langkah kecil. Mungkin hanya dengan mengatakan kepada pasangan bahwa kamu ingin kalian bisa lebih terbuka satu sama lain tentang aspek ini dalam pernikahan.

Atau mungkin dengan membaca artikel ini bersama pasangan dan mendiskusikan apa yang kalian rasakan setelah membacanya.

Yang penting adalah: mulai

Tags

pernikahankeintimanpasutrikomunikasitips

Bagikan artikel ini