← Kembali ke Blog Section
Setia dalam Hal Kecil: Pelajaran dari Hidup Tanpa Asisten Rumah Tangga
10 Desember 2025📖 6 menit baca

Setia dalam Hal Kecil: Pelajaran dari Hidup Tanpa Asisten Rumah Tangga

Ditulis oleh Ardo Sebastian
Keluarga & ParentingKehidupan Rumah Tangga

Setahun lebih kami tinggal di Bali, dan hidup kami berubah drastis dalam cara yang tidak pernah kami bayangkan.

Bukan soal pemandangan yang lebih hijau atau gaya hidup yang lebih santai. Perubahan paling besar justru ada di hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah kami pikirkan: menyapu lantai setiap pagi, mencuci piring setelah makan, antar jemput anak sekolah, hingga merawat tiga hewan peliharaan kami.

Kami sekarang mengurus semuanya sendiri. Tanpa asisten. Tanpa driver. Hanya kami berdua dengan Dinda.

Dan dalam prosesnya, kami belajar sesuatu yang mengubah cara kami memandang kehidupan.

Dari Jakarta ke Bali: Bukan Tentang Kemewahan

Keputusan pindah ke Bali bukan tentang mencari slow living atau estetika Instagram-worthy. Alasan kami sangat sederhana: keluarga.

Papa dan Mama saya ada di Bali. Kami ingin Arvel dan Naya tumbuh dekat dengan kakek nenek mereka. Kami ingin mereka punya memori bersama, bukan hanya bertemu setahun sekali saat lebaran.

Di Jakarta, kehidupan kami jauh lebih praktis. Dua asisten rumah tangga membantu semua urusan domestik. Satu driver memastikan mobilitas kami lancar. Kami bisa fokus pada pekerjaan tanpa memikirkan siapa yang akan menyiapkan makan siang atau membereskan rumah.

Tapi kepindahan ini mengubah semuanya.

Tiba-tiba kami harus mengatur ulang seluruh sistem kehidupan kami. Tidak ada lagi yang menyiapkan sarapan di pagi hari. Tidak ada yang membereskan mainan anak-anak yang berserakan. Tidak ada yang mengurus tiga hewan peliharaan kami.

Semuanya kembali ke kami berdua.

Pembelajaran yang Tidak Terduga

Jujur, di awal-awal kami merasa kewalahan. Bagaimana bisa orang-orang melakukan semua ini setiap hari?

Tapi seiring waktu, sesuatu mulai bergeser dalam diri kami.

Kami mulai menyadari bahwa pekerjaan rumah tangga bukan hanya soal menyelesaikan tugas. Ada dimensi lain yang selama ini kami lewatkan: karakter.

Setiap kali saya menyapu lantai, saya tidak hanya membersihkan debu. Saya sedang belajar tentang konsistensi, melakukan hal yang sama setiap hari, meskipun tidak ada yang memuji atau mengakui usaha itu.

Setiap kali Dinda memasak untuk keluarga, dia tidak hanya menyiapkan makanan. Dia sedang belajar tentang pelayanan yang tulus, tanpa pamrih, tanpa butuh validasi dari luar.

Dan kami mulai memahami sebuah prinsip yang sederhana namun mendalam: Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.

Pelajaran dari Lantai yang Berdebu

Ada satu momen yang sampai sekarang masih saya ingat.

Suatu pagi, saya baru saja selesai menyapu seluruh lantai rumah. Butuh waktu hampir satu jam karena rumah kami cukup besar. Saya merasa puas dengan hasil kerja saya.

Lalu dalam hitungan menit, Arvel dan Naya berlarian masuk dari halaman dengan sandal penuh tanah. Lantai yang baru saja saya sapu kembali kotor.

Di momen itu, saya bisa saja marah. Saya bisa saja merasa usaha saya sia-sia.

Tapi justru di momen itulah saya mengerti: kesetiaan bukan tentang hasil yang sempurna. Kesetiaan adalah tentang tetap melakukan yang benar, bahkan ketika hasilnya tidak langsung terlihat atau dihargai.

Saya ambil sapu lagi, dan menyapu lantai untuk kedua kalinya hari itu.

Tanpa drama. Tanpa keluhan. Karena itulah yang perlu dilakukan.

Anak-Anak Belajar dari yang Mereka Lihat

Yang menarik, perubahan ini juga berdampak pada Arvel dan Naya.

Mereka melihat bahwa ayah dan ibu mereka tidak terlalu tinggi untuk melakukan pekerjaan rumah. Mereka belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang "rendah" atau "memalukan". Setiap pekerjaan memiliki nilai dan martabatnya sendiri.

Arvel sekarang secara otomatis membereskan mainannya setelah selesai bermain. Naya membantu menyiapkan meja makan tanpa diminta. Mereka belajar bahwa menjadi bagian dari keluarga berarti semua orang berkontribusi.

Ini adalah pelajaran yang tidak akan pernah mereka dapatkan jika kami masih dibantu oleh asisten rumah tangga.

Bukan Tentang Kesempurnaan

Saya harus jujur: kami tidak sempurna dalam menjalani ini.

Ada hari-hari ketika kami terlalu lelah dan rumah menjadi berantakan. Ada waktu-waktu ketika kami membeli makanan dari luar karena tidak sempat masak. Ada momen-momen ketika kami merasa kewalahan dengan semua tanggung jawab ini.

Tapi kami belajar bahwa kesetiaan bukan tentang kesempurnaan. Kesetiaan adalah tentang konsistensi, terus bangkit dan melakukan yang terbaik, bahkan di hari-hari yang sulit.

Ketika saya tidak sempat menyapu di pagi hari, saya menyapu di sore hari. Ketika Dinda terlalu lelah untuk masak, keesokan harinya dia kembali ke dapur. Kami tidak berhenti berusaha.

Dan dalam proses itu, kami merasakan Tuhan sedang melatih kami. Dia tidak sedang menguji apakah kami bisa melakukan semuanya dengan sempurna. Dia sedang membentuk karakter kami, mengajarkan kami tentang kerendahan hati, ketekunan, dan kesabaran.

Menemukan Berkat yang Tidak Terduga

Di tengah kesibukan dan kelelahan ini, kami menemukan berkat-berkat yang tidak pernah kami bayangkan.

Anak-anak kami sekarang punya hubungan yang dekat dengan kakek nenek mereka. Mereka tidak hanya bertemu saat liburan, tapi bisa quality time setiap minggu. Mereka mendengar cerita-cerita masa lalu, belajar bahasa daerah, dan membangun memori yang akan mereka bawa seumur hidup.

Kami juga menemukan bahwa bekerja sebagai tim dalam hal-hal kecil justru memperkuat hubungan kami sebagai pasangan. Ada kepuasan tersendiri ketika kami berdua bekerja bahu membahu mengurus rumah dan anak-anak.

Dan yang paling penting, kami belajar untuk lebih menghargai. Menghargai setiap orang yang bekerja di sektor pelayanan. Menghargai usaha kecil yang seringkali tidak terlihat. Menghargai proses yang tidak selalu indah tapi membentuk karakter.

Persiapan untuk Sesuatu yang Lebih Besar

Saya percaya bahwa Tuhan sedang mempersiapkan kami untuk sesuatu yang lebih besar.

Tapi sebelum Dia mempercayakan hal-hal besar kepada kami, Dia ingin memastikan bahwa kami setia dalam hal-hal kecil terlebih dahulu.

Jika kami tidak bisa setia menyapu lantai dengan hati yang benar, bagaimana kami bisa dipercaya dengan tanggung jawab yang lebih besar?

Jika kami tidak bisa melayani keluarga kami sendiri dengan tulus, bagaimana kami bisa melayani orang lain dengan integritas?

Hal-hal kecil ini adalah sekolah kami. Dan kami masih dalam proses belajar.

Untuk Anda yang Sedang Berjuang

Jika Anda saat ini juga sedang berjuang dalam hal-hal kecil, entah itu baru pertama kali mengurus rumah sendiri, atau sedang dalam transisi hidup yang membuat Anda harus belajar dari nol, saya ingin Anda tahu bahwa Anda tidak sendirian.

Proses ini memang tidak mudah. Proses ini seringkali melelahkan dan tidak glamor.

Tapi percayalah, Tuhan sedang membentuk karakter Anda melalui hal-hal kecil ini. Setiap kali Anda tetap setia melakukan yang benar meskipun tidak ada yang melihat, Anda sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar.

Kesetiaan dalam hal-hal kecil bukan tentang seberapa sempurna Anda melakukannya. Kesetiaan adalah tentang tetap konsisten, bahkan ketika tidak ada yang memuji atau mengakui usaha Anda.

Dan suatu hari nanti, ketika pintu yang lebih besar terbuka, Anda akan siap. Karena Anda sudah terbukti setia dalam hal-hal kecil.

Tags

keluargaparentingwork-life balancerefleksi

Bagikan artikel ini